Menjelajahi Keindahan Candi Prambanan di Jogja

Candi Hindu terbesar di Indonesia dengan arsitektur megah dan kisah legenda Roro Jonggrang yang memikat.

5/9/20262 min read

green trees on brown field under white sky during daytime
green trees on brown field under white sky during daytime

Terletak sekitar 17 kilometer di timur laut Kota Yogyakarta, Candi Prambanan mengundang decak kagum setiap pengunjung yang datang. Kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia ini menggabungkan keanggunan arsitektur kuno dengan kisah sejarah yang sarat makna—membuatnya tak hanya destinasi wisata, tapi jendela budaya yang hidup.

Sejarah dan Latar Belakang

Candi Prambanan dibangun pada pertengahan abad ke-9 Masehi, diprakarsai oleh Raja Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya dan diteruskan oleh penguasa-penguasa berikutnya seperti Lokapala dan Balitung Maha Sambu. Kompleks ini pada awalnya dinamakan Shivagrha atau “Rumah Siwa”, dan berdasarkan prasasti Shivagrha yang bertanggal 856 Masehi, disebutkan bahwa sebuah proyek pengalihan aliran Sungai Opak dilakukan untuk melindungi candi dari bahaya lahar Gunung Merapi.

Arsitektur Prambanan dirancang mencerminkan kosmologi Hindu—suatu simbolisme vertikal yang mewakili gunung suci Mahameru. Kompleks ini dibagi ke dalam tiga zona: luar, tengah, dan inti, yang menggambarkan perjalanan dari dunia manusia hingga ke tempat paling suci. Kini kompleks ini diakui sebagai Warisan Dunia UNESCO sejak 1991, sebagai salah satu mahakarya arsitektur Hindu di Asia Tenggara.

Arsitektur dan Keindahan Visual

Pusat kompleks ini adalah tiga candi utama—didedikasikan untuk Trimūrti: Brahma, Wisnu, dan Siwa. Dari ketiga, candi Siwa adalah yang tertinggi, menjulang sekitar 47 meter dengan lebar dasar 34 meter. Pintu utama berada di sisi timur, mengundang pengunjung memasuki lorong relief epik Ramayana—kisah klasik tentang perjalanan Rama dan Sita, yang diabadikan dalam ukiran batu yang memancing rasa kagum.

Di sekitar candi Trimūrti berdiri enam candi kecil yang disebut candi wahana—masing-masing merupakan kendaraan/simbol dewa: Nandi (untuk Siwa), Garuda (untuk Wisnu), dan Hamsa (untuk Brahma)—serta ada candi apit dan kelir sebagai pelengkap tata ruang sakral. Lebih jauh lagi, di area luar kompleks Primer, terdapat reruntuhan sekitar 240 candi perwara yang dulunya menjadi pengawal atau pendukung upacara, meski saat ini sebagian besar hanya tinggal fondasi dan batu-batu berserakan.

Cerita Roro Jonggrang dan Legenda Lokal

Keindahan Prambanan kian berwarna oleh legenda Roro Jonggrang, putri cantik yang dikutuk menjadi patung—menurut mitos, karena menolak lamaran Bandung Bondowoso, yang membangun seribu candi dalam semalam sebagai syarat menikahi Roro Jonggrang. Saat ia berhasil menyelesaikan 999 candi, Roro Jonggrang meminta satu candi lagi sebagai syarat tambahan—hingga akibat kutukan, ia menjadi patung Durga di dalam candi Siwa. Cerita ini menambah kedalaman emosi terhadap kompleks candi—bukan semata reruntuhan kuno, melainkan juga panggung kisah manusia, cinta, dan penyesalan yang abadi.

Proses Penemuan dan Restorasi

Setelah ditinggalkan dan terkubur lama—kemungkinan akibat erupsi Gunung Merapi dang bergesernya pusat kerajaan ke Jawa Timur—Prambanan baru ditemukan kembali secara serius pada abad ke-19 oleh pemerintah kolonial Belanda. Pendudukan vegetasi, reruntuhan, dan skema pembangunan awal sempat menjadi tantangan besar. Proyek restorasi dilakukan melalui metode anastilosis—menyusun kembali batako orisinal tanpa memodifikasi bentuk asli—yang dilakukan pemerintah kolonial dan kemudian dilanjutkan pemerintah Indonesia dengan dukungan UNESCO. Beberapa pemugaran hingga kini berlangsung secara bertahap.

Mengunjungi Prambanan – Pengalaman Wisata

Pengalaman menjelajah Prambanan bukan hanya soal melihat bata tua, melainkan menyentuh narasi sejarah. Berikut beberapa hal yang bisa membuat kunjungan berkesan:

· Tur berpemandu: Banyak wisatawan memilih tur dengan pemandu lokal berbahasa Inggris yang berpengalaman—mereka menyampaikan kisah sejarah dan arsitektural dengan segar dan penuh humor.

· Menonton Sendratari Ramayana: Antara Mei hingga Oktober, saat bulan purnama, panggung terbuka di kompleks menampilkan lakon Ramayana Ballet—teater tari tanpa dialog yang memukau, dibingkai langit dan candi megah.

· Waktu terbaik berkunjung: Pagi atau sore hari, saat langit lembut, cahaya menyorot relief halus di dinding candi. Matahari terbenam di balik candi juga memberikan siluet dramatis dan romantis.

· Akses dan fasilitas: Terletak di Jalan Solo–Yogyakarta, kompleks ini mudah dijangkau via taksi, Gojek/Grab, atau bus Transjogja. Di dalam area tersedia layanan kereta golf untuk keliling

085 233 2020 58

admin@roronusantara.com

RoroNusantaraJaya © 2025. All rights reserved.