Bersantai di Kelingking Beach Nusa Penida

Pantai dengan tebing berbentuk T-Rex yang ikonik dan pasir putih yang indah.

1/10/20262 min read

brown rock formation on sea shore during daytime
brown rock formation on sea shore during daytime

Masuki area Kelingking Beach, dan panorama yang terbentang terasa seperti lukisan hidup. Tebing curam dengan bentuk unik menyerupai punggung dinosaurus—dikenal sebagai formasi T‑Rex—menjulang di tepi Samudra Hindia. Dari atas, warna laut biru kehijauan berpadu dengan pasir putih kecil menciptakan pemandangan yang sulit dilupakan. Dari sudut pandang inilah ribuan wisatawan mengabadikan momen magis tiap harinya, menjadikan tempat ini salah satu destinasi ikonik di Nusa Penida.

Perjalanan menuju Kelingking Beach sendiri adalah kisah petualangan yang seru. Dari pelabuhan Toya Pakeh atau Banjar Nyuh, Anda menempuh waktu sekitar 30–45 menit—melalui jalanan terjal dan berliku yang menguji fokus. Tajuk hijau di sepanjang jalan kadang menawarkan tejakan teduh sebelum tiba di area parkir, dari mana pandangan tebing nan spektakuler langsung terbuka.

Begitu mencapai titik pandang tebing, Anda disuguhi panorama dramatis yang kerap tampil di feed media sosial. Dari sini, Anda bisa menyaksikan lekukan alam sebagai bentuk titik tengah antara laut lepas dan tebing curam—cocok bagi yang datang untuk berfoto, meresapi keindahan atau sekadar duduk menikmati harmoni alam.

Bagi yang memandang lebih jauh ke kiri, ada jalur menantang menuju pantai. Puluhan anak tangga alami dan talian sederhana seperti terbuat dari bambu mengantar Anda menuruni tebing—mereka yang berhasil sampai di bibir pantai dimanjakan oleh suasana sepi dan aura penaklukan diri. Namun jalur ini tidak untuk semua orang—berbahaya, curam, dan membakar tenaga.

Berenang atau bermain air di Kelingking Beach sangat tidak disarankan karena ombak kuat dan arus bawah seperti rip current yang ganas bisa menyeret siapa saja tanpa peringatan. Bahkan Kementerian Pariwisata dan pihak berwenang setempat melarang berenang di sana karena risiko kematian yang tinggi.

Sejumlah kisah kejadian tragis sudah tercatat: wisatawan yang tersapu ombak saat mencoba selfie, hingga yang tergelincir dari tebing. Karena itu pengelolaan keamanan kini semakin diperketat. Pemasangan peringatan, keterlibatan petugas keselamatan, dan sosialisasi larangan berenang menjadi perhatian utama demi keselamatan pengunjung.

Meskipun akses ke bibir pantai menguras tenaga, suasana tiba di sana menyatu dengan keheningan alam. Ombak bergulung lembut, angin laut menerpa wajah, dan pasir yang hangat di kaki memberi sensasi relaksasi yang nyata. Anda duduk, beristirahat setelah turunan berat, dan hanya mendengarkan ombak—bukan suara ponsel atau hiruk-pikuk. Itu esensi dari menyatu dengan alam.

Waktu terbaik untuk datang adalah di pagi-pagi hari — sebelum pukul 10 pagi — untuk menikmati suasana sepi dan pencahayaan lembut yang mendukung fotografi alami. Beberapa orang bahkan menyarankan datang kembali sekitar pukul 16.00–17.00 untuk menikmati senja tanpa perlu mendaki saat gelap